Foto: bisnis.com
Home » Curhat
Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts
Media Online Profesional Versus Media Abal Abal
Presiden Jokowi Adalah Indonesia

Presiden Joko Widodo atau yang lebih akrab dipanggil Presiden Jokowi
adalah Presiden ketujuh Republik Indonesia menggantikan Susilo Bambang
Yudoyono.
Mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu memenangkan Pemilu
Presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) pada Juni 2014
yang lalu mengalahkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa
(Prabowo-Hatta) dengan selisih suara sedikit.
Presiden Jokowi digadang-gadang mampu mengubah Indonesia kepada
kemajuan di semua bidang. Namun dalam perjalanannya, Presiden Jokowi
senantiasa mendapat tantangan yang sangat berat. Hal ini terlihat
betapa ramainya para penghujat dan pemfitnah Jokowi. Hal itu dapat
dilihat di dunia maya atau internet.
Di Facebook dan Twitter, Jokowi selalu mendapat kritik pedas dan
terkadang malah hujatan. Nanum, Presiden Jokowi tetap sabar dan selalu
membalas segala hujatan, hinaan dan fitnahan dengan bekerja demi
bangsa dan negara.
Budaya Serobot Lampu Merah

Pulang dari Tulung Agung menuju Blitar, saat dari rumah teman, ada
kejadian unik sekaligus sangat menjengkelkan. Saat itu saya yang
pertama berhenti karena lampu merah menyala. Lalu saya sangat kaget
ketika dua sepeda motor seperti terburu-buru tetap melanggar dan
melewati saya yang sudah berhenti.
Melihat dari pakaiannya, salah satu pengendara sepertinya PNS (Pegawai
Negeri Sipil). Saya mulai membatin, "orang ini pasti sangat
terburu-buru takut telat."
Namun, ketika lampu hijau sudah menyala, salah satu pengendara yang
saya kenali dari pakaian tadi ternyata terkejar oleh laju sepeda motor
saya yang tak terlalu kencang.
Miris, saat melanggar lampu merah, sepertinya pengendara tadi
terburu-buru, rupanya tidak demikian. Karena saya yang sempat beberapa
mnenit menunggu lampu hijau menyala masih bisa mengejar. Lalu apa yang
membuat pengendara tadi rela melanggar rambu lalu linta? Bukankan itu
sangat membahayakan keselamatannya dan keselamatan pengendara lain?
Kejadian seperti ini tentu saja bukan hanya saya yang mengalaminya,
tetapi di tempat lain tentu ada yang pernah melihatnya. Dan itu
dilakukan oleh orang-orang yang telah lulus uji berkendara. Apakah
mereka tidak merasa bersalah karena telah melanggar peraturan berlalu
lintas?
Budaya serobot lampu merah sebenarnya sudah sering terjadi, dan itu
sangat membahayakan, tetapi justru kadang hal-hal yang berbahaya bagi
keselamatan tidak menjadi prioritas pengendara. Semua merasa itu bukan
pelanggaran dan tidak pernah merasa malu.
Pengalaman saya, saat lampu merah menyala, walau kendaraan dalam
keadaan sepi, saya selalu berusaha mentaaatinya. Kadang hal yang tak
terduga bisa saja terjadi, karena bila lampu hijau menyala, dari arah
berlawanan, atau dari jalan berbeda kendaraan bisa saja melaju dengan
kencang karena merasa ketika lampu hijau, kendaraan dari jalan lain
berhenti.
Saya sempat merenung, mengapa orang-orang semacam ini tak mendapat
perhatian dari aparat kepolisian?
kejadian unik sekaligus sangat menjengkelkan. Saat itu saya yang
pertama berhenti karena lampu merah menyala. Lalu saya sangat kaget
ketika dua sepeda motor seperti terburu-buru tetap melanggar dan
melewati saya yang sudah berhenti.
Melihat dari pakaiannya, salah satu pengendara sepertinya PNS (Pegawai
Negeri Sipil). Saya mulai membatin, "orang ini pasti sangat
terburu-buru takut telat."
Namun, ketika lampu hijau sudah menyala, salah satu pengendara yang
saya kenali dari pakaian tadi ternyata terkejar oleh laju sepeda motor
saya yang tak terlalu kencang.
Miris, saat melanggar lampu merah, sepertinya pengendara tadi
terburu-buru, rupanya tidak demikian. Karena saya yang sempat beberapa
mnenit menunggu lampu hijau menyala masih bisa mengejar. Lalu apa yang
membuat pengendara tadi rela melanggar rambu lalu linta? Bukankan itu
sangat membahayakan keselamatannya dan keselamatan pengendara lain?
Kejadian seperti ini tentu saja bukan hanya saya yang mengalaminya,
tetapi di tempat lain tentu ada yang pernah melihatnya. Dan itu
dilakukan oleh orang-orang yang telah lulus uji berkendara. Apakah
mereka tidak merasa bersalah karena telah melanggar peraturan berlalu
lintas?
Budaya serobot lampu merah sebenarnya sudah sering terjadi, dan itu
sangat membahayakan, tetapi justru kadang hal-hal yang berbahaya bagi
keselamatan tidak menjadi prioritas pengendara. Semua merasa itu bukan
pelanggaran dan tidak pernah merasa malu.
Pengalaman saya, saat lampu merah menyala, walau kendaraan dalam
keadaan sepi, saya selalu berusaha mentaaatinya. Kadang hal yang tak
terduga bisa saja terjadi, karena bila lampu hijau menyala, dari arah
berlawanan, atau dari jalan berbeda kendaraan bisa saja melaju dengan
kencang karena merasa ketika lampu hijau, kendaraan dari jalan lain
berhenti.
Saya sempat merenung, mengapa orang-orang semacam ini tak mendapat
perhatian dari aparat kepolisian?
Selamat Jalan Kang Kabayan

Didi Petet, saya selalu mengingatnya dengan peran Kabayan, itu yang
paling saya ingat. Sebagai Kabayan, Didi Petet sangat lugu dan selalu
menampilkan kejujuran yang membuatnya tak pernah ada salah. Tampil
lugu dan selalu apa adanya dengan nada bicara yang kaku dengan rasa
malu yang tak dibuat-buat menjadikan Didi Petet berhasil menampilkan
sosok Kabayan.
Didi Petet meninggal dunia, Indonesia kembali kehilangan seorang aktor
hebat yang menjadi inspirasi bagi junior-juniornya. Ia meninggal pada
hari Jumat 15 Mei 2015 subuh tadi.
Bintang sinetron PREMAN PENSIUN yang bernama asli Didi Widiatmoko ini
dikabarkan meninggal dunia karena sakit lambung. Pria kelahiran
Surabaya, 12 Juli 1956 ini harus berpulang di usia 58 tahun.
Selamat jalan Kang Kabayan, Indonesia akan selalu mengenangmu sebagai
bintang yang hebat.
Sumber foto: kapanlagi.com
paling saya ingat. Sebagai Kabayan, Didi Petet sangat lugu dan selalu
menampilkan kejujuran yang membuatnya tak pernah ada salah. Tampil
lugu dan selalu apa adanya dengan nada bicara yang kaku dengan rasa
malu yang tak dibuat-buat menjadikan Didi Petet berhasil menampilkan
sosok Kabayan.
Didi Petet meninggal dunia, Indonesia kembali kehilangan seorang aktor
hebat yang menjadi inspirasi bagi junior-juniornya. Ia meninggal pada
hari Jumat 15 Mei 2015 subuh tadi.
Bintang sinetron PREMAN PENSIUN yang bernama asli Didi Widiatmoko ini
dikabarkan meninggal dunia karena sakit lambung. Pria kelahiran
Surabaya, 12 Juli 1956 ini harus berpulang di usia 58 tahun.
Selamat jalan Kang Kabayan, Indonesia akan selalu mengenangmu sebagai
bintang yang hebat.
Sumber foto: kapanlagi.com
Siapa Yang Harus Saya Percaya?

Lagi galau, memikirkan kerabat yang selalu memoles mukanya dengan
bedak tebal. Tak punya rasa malu membuat kekacauan di negeri yang
katanya kaya raya, namu rakyatnya banyak yang sengsara. Aku tertegun.
Hari ini hatiku terasa pilu menyaksikan semua kejadian yang tak akan
pernah bisa aku mengerti. Apakah ini karma yang harus ditanggung
akibat dosa masa lalu? Atau ini hanya ujian yang harus aku saksikan?
Aku galau, aku tertegun, siapa yang dapat mengatasinya?
Aku melihat, beberapa orang mulai panik. Aku juga melihat beberapa
orang tak hentinya berteriak, "Aku ingin hidup lebih baik!"
Aku juga melihat, bedak tebal itu teta menghiasi kerabatku. Tak ada
yang bisa dilihat dari perubahan wajah saat ia terkejut ataupun
gembira. Hanya mata yang memandang semakin tajam seolah menyorotkan
kebencian padaku karena menentangnya.
Aku bingung harus bagaimana? Sementara keadaan ini akan berlangsung
beberapa tahun ke depan dan menjanjikan takkan ada perubahan apapun.
Apa ini yang dinamakan galau? Aku terdiam, mulutku ingin berucap,
namun hanya hati yang bicara.
Batinku kini tertekan, kerabatku tak bergeming. Ia menambah polesan
bedak di wajahnya agar tetap tebal dan tak terlihat kulit mukanya.
Kini ia tak berwajah, rasa malu tak lagi bisa mempengaruhinya, yang
penting ia bahagia dengan sandiwaranya. Aku harus bagaimana? Apakah
aku harus tetap galau? Siapa sebenarnya pemimpin negeriku? Mengapa ada
yang selalu menampilkan kebohongan dengan berbagai tipu dayanya agar
pemimpinku gagal?
Aku merasa tak lagi bisa bersuara. Pikiranku justru tertuju pada kaun
jelata di sekitarku. Mereka tak diperhatikan hanya karena ada penjilat
tertutup bedak penuh kepalsuan. Ia bahkan tak bisa berbuat apapun
untuk negeriku, namun ia tetap di sana untuk menikmati mimpinya yang
telah lama dinantinya.
Oh negeriku, aku tak ingin engkau jatuh hanya karena segelintir
manusia rakus akan kehormatan. Aku hanya ingin engkau tahu, bahwa aku
selalu mencintaimu seperti aku mencintai hidupku, yang diberikan Tuhan
sebagai anugerah yang tak terkira. Aku ingin ada bersamamu melewati
ini semua sampai kerabatku benar-benar menyadari bahwa dia harus
menghapus bedak tebal di mukanya dan membaur bersamaku mencintaimu
tanpa batas akhir dan waktu.
Siapa yang aku percaya? Aku hanya mengharapkan pemimpinku menyadari
betapa galaunya aku dengan beberapa teman-temannya yang tak tahu malu
selalu berada di dekatnya. Aku mengaharap pemimpinku menyadari itu dan
masalah akan segera selesai, agar negeriku makmur dan sentosa. Aku
masih punya harapan
bedak tebal. Tak punya rasa malu membuat kekacauan di negeri yang
katanya kaya raya, namu rakyatnya banyak yang sengsara. Aku tertegun.
Hari ini hatiku terasa pilu menyaksikan semua kejadian yang tak akan
pernah bisa aku mengerti. Apakah ini karma yang harus ditanggung
akibat dosa masa lalu? Atau ini hanya ujian yang harus aku saksikan?
Aku galau, aku tertegun, siapa yang dapat mengatasinya?
Aku melihat, beberapa orang mulai panik. Aku juga melihat beberapa
orang tak hentinya berteriak, "Aku ingin hidup lebih baik!"
Aku juga melihat, bedak tebal itu teta menghiasi kerabatku. Tak ada
yang bisa dilihat dari perubahan wajah saat ia terkejut ataupun
gembira. Hanya mata yang memandang semakin tajam seolah menyorotkan
kebencian padaku karena menentangnya.
Aku bingung harus bagaimana? Sementara keadaan ini akan berlangsung
beberapa tahun ke depan dan menjanjikan takkan ada perubahan apapun.
Apa ini yang dinamakan galau? Aku terdiam, mulutku ingin berucap,
namun hanya hati yang bicara.
Batinku kini tertekan, kerabatku tak bergeming. Ia menambah polesan
bedak di wajahnya agar tetap tebal dan tak terlihat kulit mukanya.
Kini ia tak berwajah, rasa malu tak lagi bisa mempengaruhinya, yang
penting ia bahagia dengan sandiwaranya. Aku harus bagaimana? Apakah
aku harus tetap galau? Siapa sebenarnya pemimpin negeriku? Mengapa ada
yang selalu menampilkan kebohongan dengan berbagai tipu dayanya agar
pemimpinku gagal?
Aku merasa tak lagi bisa bersuara. Pikiranku justru tertuju pada kaun
jelata di sekitarku. Mereka tak diperhatikan hanya karena ada penjilat
tertutup bedak penuh kepalsuan. Ia bahkan tak bisa berbuat apapun
untuk negeriku, namun ia tetap di sana untuk menikmati mimpinya yang
telah lama dinantinya.
Oh negeriku, aku tak ingin engkau jatuh hanya karena segelintir
manusia rakus akan kehormatan. Aku hanya ingin engkau tahu, bahwa aku
selalu mencintaimu seperti aku mencintai hidupku, yang diberikan Tuhan
sebagai anugerah yang tak terkira. Aku ingin ada bersamamu melewati
ini semua sampai kerabatku benar-benar menyadari bahwa dia harus
menghapus bedak tebal di mukanya dan membaur bersamaku mencintaimu
tanpa batas akhir dan waktu.
Siapa yang aku percaya? Aku hanya mengharapkan pemimpinku menyadari
betapa galaunya aku dengan beberapa teman-temannya yang tak tahu malu
selalu berada di dekatnya. Aku mengaharap pemimpinku menyadari itu dan
masalah akan segera selesai, agar negeriku makmur dan sentosa. Aku
masih punya harapan
Pengalaman Naik Kapal Bakauheni - Merak Lebaran Tahun Lalu
![]() |
| Di atas kapal SelSunda |
dan sedih. Senang karena akan bertemu dengan keluarga ddan merayakan
lebaran bersama. Sedih karena di perjalanan naik bus pasti selalu
mengalami kemacetan yang luar biasa, baik jalan darat maupun laut.
Dari Palembang ke Blitar yang biasanya dapat ditempuh hanya 2 hari 2
malam, kalau menjelang lebaran, maka bisa lebih lama, antara 3 - 4
hari. Mantap!
Nah, ini pengalaman mudik tahun lalu, saat di laut (Selat Sunda) dari
Lampung (Bakauheni) sampai Banten (Merak) juga mengalami kemaceta lo.
Hari biasa perjalanan laut bisa ditempuh hanya 3-4 jam, waktu itu
sampai 7 jam.
Mau gimana lagi, itu sudah resiko bagi saya. Jadi ya diterima saja
dengan tabah. Mungkin hal ini bisa dijadikan peringatan untuk
pemerintah untuk memperbaiki transpotasi yang setiap tahun selalu
berulang.
Macet saat mudik lebaran menjadi kebiasaan (tradisi) membuat semua
pengguna transportasi tidak efektif menggunakan waktu yang ada.
Apalagi bila cuti yang diberikan berdekatan dengan hari H.
Sejuknya Di Bawah Pohon Kelapa Sawit
Sejuknya di bawah pohon kelapa sawit. Kebiasaan ini apalagi jika siang
hari panas, pohon sawit yang tinggi melingi tubuh dari panas matahari
yang menyengat. Angin sepoi-sepoi meniup membuat mata mulai mengantuk.
Jika keadaan di bawah poho bersih, ingin rasanya aku tertidur.
Ya, siang ini memang panas. Menyengat dan biasanya jika panas seperti
ini, sore atau malam hari akan hujan. Sekedar mendinginkan tubuh, maka
aku memilih berteduh di bawah pohon kelapa sawit yang rindang.
Hati ini memang sedang agak galau, sampai teringat seorang teman di
Banjarnegara yang sedang mengalami masalah keluarga. Kasihan dia,
harus menanggung rasa malu akibat ulang kepala desanya. Ah sudahlah.
Aku doakan saja semoga masalahnya cepat selesai dan tak akan menuai
masalah baru.
hari panas, pohon sawit yang tinggi melingi tubuh dari panas matahari
yang menyengat. Angin sepoi-sepoi meniup membuat mata mulai mengantuk.
Jika keadaan di bawah poho bersih, ingin rasanya aku tertidur.
Ya, siang ini memang panas. Menyengat dan biasanya jika panas seperti
ini, sore atau malam hari akan hujan. Sekedar mendinginkan tubuh, maka
aku memilih berteduh di bawah pohon kelapa sawit yang rindang.
Hati ini memang sedang agak galau, sampai teringat seorang teman di
Banjarnegara yang sedang mengalami masalah keluarga. Kasihan dia,
harus menanggung rasa malu akibat ulang kepala desanya. Ah sudahlah.
Aku doakan saja semoga masalahnya cepat selesai dan tak akan menuai
masalah baru.
Suatu Senja Di Kota Palembang
Matahari sudah beranjak jauh di ufuk barat, pertanda malam akan segera datang. Kala itulah hatiku akan menjadi sepi. Tak pernah rasanya aku merasakan sesepi ini. Dihatiku selalu saja merindukan untuk pulang. Ya, aku ingin pulang. Rindu.
Namun aku menyadari, bahwa waktu itu masih lama. Aku merasakan kebosanan yang mendalam. Tapi apa boleh buat, aku harus tetap menjalani kehidupanku jauh dari keluarga. Tetapi yang pasti dan aku sadari, aku akan secepat mungkin pulang.
Beberapa saat yang lalu aku tertegun dengan bunyi ponselku. Aku melihatnya, ada sms masuk. Ternyata anakku, "Ayah, cepat pulang." katanya. Aku membalasnya dan aku mengatakan bahwa ayah akan segera pulang ketika sudah banyak uang nanti. Hanya itu yang mampu aku ucapkan untuk membuat janji bahwa aku pasti pulang.
Kota Palembang adalah tempat di mana aku bekerja. Terpaksa jauh dari rumah karena hanya di sinilah aku bisa mendapat kerja dengan gaji yang lumayan. Aku selalu berusaha bekerja sekuat tenaga agar aku bisa mendapatkan banyak uang dan secepatnya pulang.
Namun aku menyadari, bahwa waktu itu masih lama. Aku merasakan kebosanan yang mendalam. Tapi apa boleh buat, aku harus tetap menjalani kehidupanku jauh dari keluarga. Tetapi yang pasti dan aku sadari, aku akan secepat mungkin pulang.
Beberapa saat yang lalu aku tertegun dengan bunyi ponselku. Aku melihatnya, ada sms masuk. Ternyata anakku, "Ayah, cepat pulang." katanya. Aku membalasnya dan aku mengatakan bahwa ayah akan segera pulang ketika sudah banyak uang nanti. Hanya itu yang mampu aku ucapkan untuk membuat janji bahwa aku pasti pulang.
Kota Palembang adalah tempat di mana aku bekerja. Terpaksa jauh dari rumah karena hanya di sinilah aku bisa mendapat kerja dengan gaji yang lumayan. Aku selalu berusaha bekerja sekuat tenaga agar aku bisa mendapatkan banyak uang dan secepatnya pulang.
Subscribe to:
Posts (Atom)


