Pohon Karet Aneh

Pohon Karet Aneh
Buka-buka foto, tak sengaja menemukan foto-foto tahun lalu ketika di sebuah desa Sukadamai, Kecamatan Tanjung Lago, Banyuasin, Sumatera Selatan.

Pohon karet ini terlihat aneh karena di bagian pucuk tumbuh bukan sebagaimana lazimnya pohon karet biasa. Biasanya, pohon karet normal akan tumbuh daus, seperti batang-batang di sebelahnya. Namun, ini tidak. Justru muncul seperti tumbuhan lain. Jika dilihat secara seksama, seperti kepala dan tangan manusia.

Namun sekali lagi, ini hanya sebuah tumbuhan yang biasa, namun terlihat aneh hanya karena di pucuk terlihat muncul seperti tumbuhan lain yang seharusnya muncul daun.


Pohon Karet Aneh 1
 Dulu pernah saya share foto ini di facebook, namun banyak yang beranggapan bahwa foto ini adalah hasil editan melalui media photoshop. Padahal saya sendiri yang memotretnya menggunakan ponsel.

Entahlah pohon ini masih ada atau tidak, tetapi saya sendiri menyaksikannya dan mengabadikan gambarnya. Saya masih ingat sekali tempatnya, dan jika saya ke sana lagi, saya tetap akan mengingat tempat foto ini saya ambil.

Apakah gambar ini terlihat seperti editan? Tidak, karena saya sendiri yang mengambil gambarnya dan dalam keterangan foto di ponsel  diambil pada tanggal 31 Mei 2014 yang lalu. Hal yang paling penting adalah saya yang mengambil gambarnya.

Pengalaman Naik Kapal Bakauheni - Merak Lebaran Tahun Lalu

Pengalaman Naik Kapal Bakauheni - Merak Lebaran Tahun Lalu
Di atas kapal SelSunda
Setiap kali mudik lebaran selalu menjadi pengalaman yang antara senang
dan sedih. Senang karena akan bertemu dengan keluarga ddan merayakan
lebaran bersama. Sedih karena di perjalanan naik bus pasti selalu
mengalami kemacetan yang luar biasa, baik jalan darat maupun laut.

Dari Palembang ke Blitar yang biasanya dapat ditempuh hanya 2 hari 2
malam, kalau menjelang lebaran, maka bisa lebih lama, antara 3 - 4
hari. Mantap!

Nah, ini pengalaman mudik tahun lalu, saat di laut (Selat Sunda) dari
Lampung (Bakauheni) sampai Banten (Merak) juga mengalami kemaceta lo.
Hari biasa perjalanan laut bisa ditempuh hanya 3-4 jam, waktu itu
sampai 7 jam.

Mau gimana lagi, itu sudah resiko bagi saya. Jadi ya diterima saja
dengan tabah. Mungkin hal ini bisa dijadikan peringatan untuk
pemerintah untuk memperbaiki transpotasi yang setiap tahun selalu
berulang.

Macet saat mudik lebaran menjadi kebiasaan (tradisi) membuat semua
pengguna transportasi tidak efektif menggunakan waktu yang ada.
Apalagi bila cuti yang diberikan berdekatan dengan hari H.

Sejuknya Di Bawah Pohon Kelapa Sawit

Sejuknya Di Bawah Pohon Kelapa Sawit
Sejuknya di bawah pohon kelapa sawit. Kebiasaan ini apalagi jika siang
hari panas, pohon sawit yang tinggi melingi tubuh dari panas matahari
yang menyengat. Angin sepoi-sepoi meniup membuat mata mulai mengantuk.
Jika keadaan di bawah poho bersih, ingin rasanya aku tertidur.

Ya, siang ini memang panas. Menyengat dan biasanya jika panas seperti
ini, sore atau malam hari akan hujan. Sekedar mendinginkan tubuh, maka
aku memilih berteduh di bawah pohon kelapa sawit yang rindang.

Hati ini memang sedang agak galau, sampai teringat seorang teman di
Banjarnegara yang sedang mengalami masalah keluarga. Kasihan dia,
harus menanggung rasa malu akibat ulang kepala desanya. Ah sudahlah.
Aku doakan saja semoga masalahnya cepat selesai dan tak akan menuai
masalah baru.

Perjalanan Ke Pulau Rimau

Perjalanan Ke Pulau Rimau
Naik Jukung / Perahu Motor
 Pernahkah Anda pergi ke Pulau Rimau? Sebuah pulau kecil di daerah Sumatera Selatan. Jika ditempuh dengan kendaraan darat, dari Kota Palembang memerlukan u sekitar 2-3 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Tetapi bisa memakan waktu 10-12 jam menggunakan perahu motor atau biasa disebut Jukung dari Gasing Laut, Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyu Asin.

Jukung sendiri merupakan alat transportasi , terlambat yang digunakan untuk bisa sampai di Pulau Rimau. Namun, naik Jukung tentu saja gratis karena alat transportasi ini sebenarnya digunakan untuk pengangkutan barang, terutama kelapa sawit hasil perkebunan di Pulau Rimau.

Perjalanan Ke Pulau Rimau


Pulau Rimau sendiri penduduknya terbanyak dari transmigrasi saat Presiden Soeharto masih berkuasa. Penduduknya yang rata-rata berasal dari pulau Jawa hidup dengan bertani dan sebagai pekebun. Ada juga yang berdagang dan menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit.

Dari pengalaman yang saya dapatkan ketika bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit di Pulau Rimau, di Pulau ini kita bisa melihat hidup masyarakatnya selalu bergotong royong. Hampir mirip dengan pola kehidupan masyarakat di Pulau Jawa, karena memang kebanyakan penduduknya adalah masih asli dari Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah serta Madura.

Perjalanan Ke Pulau Rimau


Daerah ini sangat cocok bagi yang suka berwisata memancing, karena selain medan yang menantang, di Pulau Rimau ikannya besar-besar dan masih alami. Pengalaman saya ketika memancing, ikan yang paling banyak adalah ikan Gabus dan ikan Bethok (Palembang).










Suatu Senja Di Kota Palembang

Suatu Senja Di Kota Palembang
Matahari sudah beranjak jauh di ufuk barat, pertanda malam akan segera datang. Kala itulah hatiku akan menjadi sepi. Tak pernah rasanya aku merasakan sesepi ini. Dihatiku selalu saja merindukan untuk pulang. Ya, aku ingin pulang. Rindu.

Namun aku menyadari, bahwa waktu itu masih lama. Aku merasakan kebosanan yang mendalam. Tapi apa boleh buat, aku harus tetap menjalani kehidupanku jauh dari keluarga. Tetapi yang pasti dan aku sadari, aku akan secepat mungkin pulang.

Beberapa saat yang lalu aku tertegun dengan bunyi ponselku. Aku melihatnya, ada sms masuk. Ternyata anakku, "Ayah, cepat pulang." katanya. Aku membalasnya dan aku mengatakan bahwa ayah akan segera pulang ketika sudah banyak uang nanti. Hanya itu yang mampu aku ucapkan untuk membuat janji bahwa aku pasti pulang.

Kota Palembang adalah tempat di mana aku bekerja. Terpaksa jauh dari rumah karena hanya di  sinilah aku bisa mendapat kerja dengan gaji yang lumayan. Aku selalu berusaha bekerja sekuat tenaga agar aku bisa mendapatkan banyak uang dan secepatnya pulang.